TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA RESMI KAMI <><><><><><>Selamat membaca<><><><><><>Semoga Kehadiran MEDIA Kami Bermanfaat Bagi Para Pembaca

Berhenti Berlindung di Balik “Dilema”

Oleh: Ahmad Fathullah, M.Pd.
Sudah terlalu lama kita mendengar kalimat yang sama: LKSA Muhammadiyah berada dalam dilema antara kaderisasi dan kebutuhan dapur. Kalimat ini diulang di forum, ditulis di media, dan dijadikan alasan untuk memaklumi berbagai keterbatasan.
Masalahnya, semakin sering diulang, semakin terlihat jelas: ini bukan analisis ini pembenaran.
Mari kita luruskan.
Yang terjadi di banyak LKSA bukanlah dilema.
Ini adalah kegagalan membangun sistem yang layak.
Tidak ada institusi yang bisa bicara kaderisasi serius jika setiap bulan masih sibuk mencari cara agar anak-anaknya bisa makan. Dan tidak ada alasan untuk terus-menerus memaklumi kondisi itu seolah-olah itu takdir. Ini bukan takdir. Ini hasil dari pola pengelolaan yang tidak pernah benar-benar diperbaiki.
Selama LKSA masih bergantung pada donasi insidental, tanpa desain keuangan yang jelas, tanpa unit usaha yang berjalan, dan tanpa strategi keberlanjutan, maka satu hal pasti:
dapur akan selalu menang, kaderisasi akan selalu kalah.
Dan ironisnya, kondisi ini sering dibungkus dengan narasi pengabdian. Seolah-olah keterbatasan adalah sesuatu yang harus dirayakan, bukan diselesaikan. Padahal, dalam jangka panjang, sikap seperti ini justru mengorbankan masa depan anak-anak yang diasuh.
Kita perlu keberanian untuk mengatakan:
niat baik saja tidak cukup.
LKSA tidak bisa lagi dijalankan dengan pendekatan “yang penting jalan”. Karena faktanya, banyak yang memang “jalan”, tapi tidak pernah sampai tujuan. Anak-anak tumbuh, keluar dari panti, tetapi tidak benar-benar siap menghadapi kehidupan. Mereka selamat, tapi tidak kuat. Mereka bertahan, tapi tidak mandiri.
Jika ini terus terjadi, maka kita harus jujur: fungsi kaderisasi di LKSA hanya menjadi simbol, bukan realitas.
Lebih jauh lagi, cara kita memahami kaderisasi pun perlu dikritik. Terlalu sering kaderisasi direduksi menjadi aktivitas organisasi ikut IPM, latihan Hizbul Wathan, atau kegiatan seremonial lainnya. Itu penting, tetapi jauh dari cukup.
Kaderisasi yang tidak menghasilkan kemandirian adalah kaderisasi yang setengah jadi.
Apa gunanya seseorang paham ideologi, jika ia tetap bergantung secara ekonomi? Apa artinya aktif berorganisasi, jika tidak memiliki daya tahan menghadapi realitas hidup? Dalam konteks anak-anak LKSA, pertanyaan ini bukan teoritis ini sangat nyata.
Karena itu, persoalan LKSA tidak bisa diselesaikan dengan menambah program kaderisasi. Itu justru memperparah beban jika fondasi dasarnya rapuh. Yang dibutuhkan adalah perombakan cara berpikir.
Kita harus berhenti memisahkan dapur dan kaderisasi.
Keduanya harus dipaksa masuk dalam satu sistem yang saling menguatkan.
Artinya jelas bahwa operasional bukan sekadar rutinitas, tetapi harus menjadi ruang pendidikan. Anak-anak tidak cukup diberi, mereka harus dilibatkan. Mereka harus belajar mengelola, bekerja, bertanggung jawab, dan memahami bagaimana sebuah lembaga bisa bertahan.
Di titik ini, LKSA seharusnya menjadi laboratorium kehidupan bukan sekadar tempat perlindungan.
Namun, semua itu tidak akan terjadi tanpa satu hal yang paling mendasar: keberanian untuk berubah. Berubah berarti:
meninggalkan pola lama yang tidak efektif
berhenti bergantung sepenuhnya pada belas kasih publik
mulai membangun kemandirian ekonomi, sekecil apa pun langkahnya
meningkatkan kapasitas pengelola secara serius, bukan sekadar seremonial
Ini tidak mudah. Bahkan cenderung tidak nyaman. Tapi jauh lebih berbahaya jika kita terus merasa nyaman dalam ketidakberdayaan yang dibungkus narasi pengabdian.
Kita juga perlu mengubah cara kita memandang anak-anak LKSA. Mereka bukan objek santunan. Mereka bukan sekadar penerima bantuan. Jika kita terus melihat mereka seperti itu, maka kita sedang membatasi masa depan mereka sejak awal.
Mereka harus diposisikan sebagai subjek yang dipersiapkan untuk mandiri dan memimpin. Dan itu hanya mungkin jika sistem di dalam LKSA memang dirancang ke arah sana.
Akhirnya, kita harus memilih:
terus mengulang narasi dilema, atau mulai membangun sistem.
Jika kita memilih yang pertama, maka lima atau sepuluh tahun ke depan, kita akan membaca artikel yang sama, dengan keluhan yang sama, dan hasil yang tidak jauh berbeda.
Namun jika kita memilih yang kedua, meskipun dimulai dari langkah kecil, maka LKSA bisa berubah dari lembaga yang sekadar bertahan menjadi lembaga yang benar-benar membentuk masa depan.
Dan pada saat itu, kita tidak lagi berbicara tentang keterbatasan.
Kita berbicara tentang kekuatan.
Share:

0 comments:

Posting Komentar

Lokasi Panti

Donasi Via Rekening Panti

Donasi Via Rekening Panti

Narahubung